Selasa, 24 November 2015

makalah tentang disiplin



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang  
Disiplin sangat penting untuk pertumbuhan organisasi, digunakan terutama untuk memotivasi pegawai dalam mendisiplinkan diri dalam melaksanankan pekerjain baik secara perorangan maupun kelompok, disamping itu disiplin bermanfaat mendidik pegawai untuk mematuhi dan meneynangi peraturan, prosedur, maupun kebijakan yang ada, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang baik.
Kurang pengetahuan tentang peraturan, prosedur, dan kebijakan yang ada merupakan penyebab terbanyak tindakan indisipliner. Salah satu upaya untuk menghadapi tindakan tersebut, pihak pemimpin sebaiknya memberikan program orientasi kepada tenaga kerja mulai dari hari pertama masuk, kedisiplinan tidak akan berjalan dengan baik apabila kebijakan yang ada tidak diketahui dengan jelas aturanya. Pimpinan harus menjelaskan secara rinci peraturan – peraturan yang sering dilanggar berikut rasional dan konsekwensinya. Demikian pula peraturan / prosedur atau kebijakan yang mengalami perubahan atau diperbaharui sebaiknya diinformasikan melalui diskusi.
Usaha yang dapat dilakukan oleh madrasah/sekolah dalam rangka penanaman disiplin terhadap siswa dengan mengkondisikan lingkungan madrasah sedemikian rupa sehingga menjadai kondusif dalam pembentukan disiplin bagi siswa. Terutama yang harus dikondisikan adalah prilaku dan sikap yang dicerminkan oleh guru, sehingga guru menjadi contoh dalam berdisiplin. Siswa tidak akan memiliki disiplin manakala melihat gurunya sendiri juga tidak disiplin. Guru harus menghindari ketidak sesuaian aturan dan tata tertib yang berlaku. Aturan yang bersifat kurikuler misalnya agenda yang telah dibuat dan direncanakan haruslah sesuai dengan jadual yang ditetapkan baik alokasi waktunya maupun dalam proporsinya. Misalnya ulangan harian yang telah dijadualkan, pokok bahasan yang telah dialokasikan waktu dan jumlah pertemuannya, hingga pada ketuntasan materi yang yang menjadi beban belajar siswa dalam setiap semesternya. Demikian pula jam masuk dan pulang serta keberadaan guru dalam ruangan. Pakaian dan penampilan guru pun haruslah mencerminkan kedisiplinan guru yang seyogyanya dapat ditiru oleh siswa. Memberlakukan peraturan tata tertib yang jelas dan tegas merupakan faktor yang penting dalam pembentukan disiplin siswa. Tata tertib ini harus disosialisasikan kepada siswa dan hendanya adanya komitmen siswa dan orang tua siswa untuk mematuhinya, sehingga dalam penerapannya siswa telah memahami dan orang tua pun dapat memakluminya. Tata tertib yang dibuat hendaknya mudah diikuti dan mampu  menciptakan suasana kondusif untuk belajar baik yang klasikal dan terprogram maupun non klasikal dan dan bersifat pembiasaan. Kedisiplinan yang diterapkan hendaknya disosialisasikan secara konsisten oleh para guru kepada siswa dengan memberi pemahaman tentang pentingnya disiplin dalam belajar untuk dapat mencapai hasil optimal, melalui pembinaan dan yang  lebih penting lagi melalui keteladanan.
Berdasarkan uraian tentang disiplin tersebut maka dapat disintesakan bahwa perilaku disiplin adalah suatu sikap yang digambarkan siswa dalam berprilaku yang sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku di suatu tempat tertentu.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka ada beberapa permasalahan dalam menegakan disiplin disekolah:
1.    Apa yang dimaksud dengan disiplin?
2.    Apa hakekat dari Disiplin?
3.    Bagaimana cara merancang Disiplin Di sekolah?
4.    Bagaimana Startegi dan  Tata Cara Disiplin Sekolah ?




1.3  Tujuan Penulisan makalah
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini penulis ingin yaitu:
1. Mengetahui Pengertian Disiplin.
2. Mengetahui hakekat dari Disiplin?
3. Mengetahui bagaimana cara merancang Disiplin Di sekolah?
4. Mengetahui bagaimana Startegi dan  Tata Cara Disiplin Sekolah?





































BAB II
KAJIAN TEORITIS

Tatacara kehidupan mengandung arti bahwa tingkah tingkah laku seorang diatur dalam keharusan untuk memperlihatkan suatu tingkahlaku. Disiplin pada anak adanya pengertian-pengertian mengenai batasan-batasan kebebasan dari perbuatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak baik itu dilingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Disiplin itu perlu ditanamkan sedikit demi sedikit agar anak dapat mengembangkan sikap disiplin dengan sendirinya.

2.1 Pengertian disiplin
Disiplin merupakan istilah yang sudah memasyarakat diberbagai instansi pemerintah maupun swasta. Kita mengenal adanya disiplin kerja, disiplin lalu lintas, disiplin belajar dan macam istilah disiplin yang lain. Disiplin secara etimologi berasal dari bahasa latin “ disibel” yang berarti pengikut. Seiring dengan perkembangan bahasa, kata tersebut mengalami perubahan menjadi ‘disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Berbeda dengan pendapat yang menyatakan bahwa disiplin berasal dari bahasa latin “Disciplina” yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan kerohanian serta pengembangan tabiat. Jadi sifat disiplin berkaitan dengan pengembangan sikap yang layak terhadap pekerjaan. Sekarang ini kata displin telah berkembang mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga banyak para ahli baik ahli bahasa maupun sosial dan etika dan estetika memberikan definisi yang berbeda-beda.
Ada beberapa tokoh yang mendefinisikan disiplin sebagai sebuah proses yang harus ditempuh sebagaimana diringkas oleh carapedia.com berikut ini;

Disiplin merupakan hasil belajar dan mencakup aspek kognitif, afektif, dan behavioral (Toto Asmara). Disiplin merupakan wujud nyata dari penghargaan kita pada diri sendiri dan orang lain (Tim Penulis Grasindo). Disiplin adalah proses pelatihan pikiran dan karakter, yang meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan menumbuhkan ketaatan atau kepatuhan terhadap tata tertib atau nilai tertentu (Andrias Harefa). Disiplin adalah merujuk pada autoriti, keadaan kelas yang teratur, program studi yang sitematik, serta cara penetapan peraturan atau hukuman (R. F. Olivia)

Dari beberapa definisi tersebut dapat difahami bahwa disiplin adalah serangkaian pelatihan atau pembiasaan yang untuk meningkatknya kemampuan aspek kognitif, afektif dan behavioral serta pengendalian diri yang menjadi habit dalam kehidupan.
Ada juga yang mendefinisikan bahwa disiplin merupakan potensi diri siswa yang perlu diekflor dalam proses pembelajaran yang berlangsung.sebagaiman dipaparkan oleh carapedia.com berikut;
Disiplin merupakan salah satu aspek perkembangan seorang individu yang berkaitan dengan cara untuk mengkoreksi atau memperbaiki dan mengajarkan anak tingkah laku baik tanpa merusak harga diri anak (Euis Sunarti).
Pada hakekatnya, disiplin merupakan hal yang dapat dilatih. pelatihan disiplin diharapkan dapat menumbuhkan kendali diri, karakter atau keteraturan, dan efisiensi. Jadi secara singkat dapat disimpulkan bahwa disiplin berhubungan dengan pengendalian diri supaya dapat menbedakan mana hal yang benar dan mana hal yang salah sehingga dalam jangka panjang diharapkan bisa menumbuhkan perilaku yang bertanggung jawab
Berikut ini adalah pengertian dan definisi disiplin sebagaimana dipaparkan oleh carapedia.com adalah sebagai berikut;
Disiplin adalah hubungan tata tertib, tata susila, adab, akhlak, dan kesopanan (Abdullah Sani Bin Yahaya). Disiplin adalah jembatan antara tujuan dan prestasi (Jim Rohn).Disiplin merupakan latihan yang diberikan kepada murid supaya mereka bertindak sesuai dengan peraturan di rumah, sekolah, dan masyarakat (Mizan Adiliah). Disiplin adalah beraneka aturan yang menjadi petunjuk dan pegangan kehidupan beradab suatu masyarakat agar dapat melangsungkan keberadaannya dalam keadaan aman, tertib, serta terkendali berdasarkan hukum dalam semua aspek kehidupan (Sukono) Disiplin adalah tata tertib ( di sekolah, kemiliteran, dsb) atau ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib, dsb) (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

2.2  Hakikat Disiplin.
Sekilas dalam membahas Pengertian disiplin di atas, kita sudah menyentuh mengapa disiplin itu perlu. Misalnya, makna disiplin dalam Bahasa Inggris menunjukkan bahwa tujuan dari disiplin adalah melahirkan ketaatan pada aturan dan pengendalian diri. Dalam pengertian Bahasa Arab, disiplin juga diperlukan untuk menegakkan kemaslahatan umum. Selain itu, tujuan disiplin juga adalah menjaga diri seseorang agar tidak jatun berbagai kesalahan, atau lebih luas lagi, agar seseorang bisa mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam pengertian terakhir ini, kata ta’dîb identik dengan pendidikan.
Dengan demikian, tujuan dari disiplin, jika kita melihatnya dalam pengertian yang luas, adalah tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut, tentu diperlukan metode-mdetode tertentu. Tidak ada ketentuan yang baku dalam hal metode ini kecuali dua hal: (1) metode tidak boleh bertentangan dengan tujuan; (2) metode yang baik adalah metode yang paling efektif dan efisien dalam mencapai tujuan.
Metode tidak boleh bertentangan dengan tujuan. Ini prinsip yang amat penting. Tujuan yang baik, yang dicapai melalui cara-cara yang salah, akan merusak tercapainya tujuan tersebut. Kalau saya mencuri dengan tujuan bersedekah kepada fakir miskin, tindakan saya itu tetap haram, dan sedekah saya tidak berpahala. Kalau saya ingin agar anak saya menjadi seorang yang baik, tetapi saya membiarkan dia bergaul dengan orang-orang yang nakal dan jahat, maka saya sudah melakukan cara yang bertentangan dengan tujuan.
Tetapi Anda mungkin akan berkata, kalau persoalan jelas hitam-putih seperti contoh-contoh di atas, maka takkan ada masalah. Yang jadi masalah adalah ketika cara-cara tertentu oleh sebagian orang dianggap wajar, sebagian lagi menganggapnya tidak wajar bahkan melanggar hukum. Misalnya, bisakah orangtua atau guru menempeleng anak didiknya yang melakukan kesalahan besar dengan tujuan agar anak itu jera? Di zaman sekarang, pemukulan pada anak bisa dijerat hukum karena dianggap melakukan tindak kekerasan pada anak.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya berpendapat bahwa perubahan sosial budaya masyarakat akan menentukan cara-cara apa saja yang dapat diterima dalam mendidik anak. Barangkali, di zaman dulu pukul dan tempeleng itu dianggap wajar dan biasa. Budaya masyakarat kita pada saat itu lebih bersifat paternalistik (tunduk pada figur ayah atau guru) dan komunal (kepentingan kelompok lebih diutamakan daripada kepentingan indvidu). Sekarang zaman berubah. Anak-anak kita semakin berpendidikan, dan budaya kita semakin individualis dalam arti orang dihargai lebih sebagai diri pribadi ketimbang sebagai anggota dari satu kelompok. Perubahan sosial ini membuat apa yang dulu wajar, sekarang malah dianggap melanggar hukum.
Apakah perubahan ini patut disyukuri atau disesali? Saya kira kita tak perlu bersyukur atau menyesal karena yang penting adalah prinsip kedua dalam menerapkan metode, yaitu sejauhmana sebuah metode efektif mencapai tujuan yang diinginkan. Kalau di zaman dulu anak-anak menjadi disiplin karena takut pada guru atau orangtua yang kalau marah bisa saja memukulnya, sekarang kalau dipukul barangkali mereka tidak akan bertambah disiplin, melainkan bertambah nakal. Jika demikian halnya, maka cara yang diterapkan harus diubah, yakni dengan cara-cara persuasif dan kasih sayang. Selain itu, karakter masing-masing anak dan latar belakang sosial keluarganya, seringkali berpengaruh pula terhadap metode apa yang efektif untuk anak tersebut. Maka dalam hal ini, seorang pendidik harus jeli dan bisa memahami karakter masing-masing anak didiknya. Anak miskin dari keluarga tidak terpelajar, yang tiap hari diomelin di rumah, mungkin akan berbeda cara penanganannya dengan anak orang berduit dari keluarga terpelajar. Singkat kata, tidak ada metode yang benar-benar universal.
Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah metode tanpa suara, tetapi amat berpengaruh, yaitu contoh teladan. Semua kita tahu akan hal ini, yakni bahwa contoh lebih fasih daripada kata-kata indah. Tetapi dalam praktik, hal ini tidaklah mudah. Bagaimana guru dapat menanamkan disiplin kalau dia sendiri sering terlambat dan sering tidak masuk? Bagaimana orangtua dapat menyuruh anaknya rajin shalat kalau dia sendiri seringkali meningalkan shalat?
Mengapa Manusia Perlu Disiplin?
Tetapi mengapa manusia perlu dilatih dan dididik dengan disiplin? Karena manusia adalah makhluk yang belum selesai. Sejak lahir, dia harus diasuh dan ditumbuhkembangkan, baik kehidupan fisik, psikis ataupun sosialnya. Manusia tidak seperti binatang yang tidak lama setelah lahir sudah bisa mengikuti pola hidup orangtuanya. Tetapi berbeda dengan binatang, manusia dapat terus maju dan berkembang. Ia dapat mewariskan kepandaiannya kepada generasi muda, yang akan mengembangkannya lagi sampai batas yang tak pernah diketahui. Manusia adalah makhluk yang terus-menerus menjadi.
Dalam proses menjadi itu, manusia harus menjalaninya melalui berbagai latihan dan pengajaran. Disiplin merupakan bagian dari latihan itu. Dalam Bahasa Arab disebut riyâdhah. Dengan latihan dan pembiasaan, manusia diharapkan akan terbiasa pada perbuatan baik, dan meninggalkan perbuatan jahat. Proses pembiasaan inilah yang sebenarnya dilakukan dalam menerapkan beragam metode di atas. Ini sebabnya, al-Ghazali (1995:57) mengatakan, al-khuluq adalah sisi batin dari perilaku, sedangkan al-khalq adalah sisi lahirnya. Pelatihan diperlukan untuk menanamkan pada batin seseorang kebiasaan akan suatu perbuatan. Jika suatu perbuatan itu sudah terbiasa sehingga ia mudah mengerjakannya tanpa hambatan batin lagi, maka perbuatan itu bisa disebut al-khuluq dan jamaknya al-akhlâq. Jika perbuatan itu baik, maka disebuat al-akhlâq al-karîmah, dan jika buruk disebut al-akhlâd al-sayyiah.
Akhirnya, perlu kiranya juga disinggung di sini bahwa dalam tradisi Islam, pendidikan itu bertujuan melahirkan keseimbangan. Karena itu dalam agama ada perintah untuk berbuat baik, ada larangan berbuat jahat. Ada ajaran tentang cinta kasih, adapula ajaran tentang keadilan. Menurut Cak Nur, kalau agama Yahudi menekankan keketatan hukum dan Kristen menekankan cinta kasih, maka Islam berada di tengah-tengah. Yahudi itu sangat ketat hukumnya karena ia adalah agama untuk orang-orang yang pernah diperbudak. Budak biasanya tidak taat kecuali diancam dengan hukum. Selanjutnya datang Nabi Isa untuk melonggarkan keketatan itu dengan ajaran cinta kasih. Akhirnya Muhammad menyempurnakannya dengan menggabungkan keadilan hukum dan cinta atau rahmat.
Dalam tradisi tasawuf, Tuhan itu juga memiliki dua jenis sifat yaitu sifat-sifat jamâl yang indah seperti penyayang, pengampun dan penerima taubat, dan sifat-sifat jalâl yang menakutkan seperti memaksa dan menyiksa. Gabungan antara kedua jenis sifat ini kemudian melahirkan kamâl atau kesempurnaan. Seorang Muslim diharapkan bersikap seimbang pula dalam hidupnya. Ia tak boleh begitu takut pada Tuhan sehingga putus asa, atau begitu berharap akan rahmat Tuhan sehingga berbuat dosa seenaknya. Manusia harus berada di tengah-tengah antara takut dan harap. Begitu pula dalam hal pendidikan. Anak yang hanya diberi kasih sayang tetapi tak pernah ditegur, mungkin akan menjadi anak yang manja. Sebaliknya, anak yang terus-menerus dimarahi mungkin akan menjadi tidak percaya diri. Disiplin adalah upaya menciptakan keseimbangan, dan keseimbangan itu memang tidak mudah.














BAB III
PEMBAHASAN

3. 1 Merancang kedisiplinan Di Sekolah
Sekolah yang tertib, aman, dan teratur merupakan prasyarat agar siswa dapat belajar secara optimal. Kondisi semacam ini dapat terjadi jika disiplin sekolah berjalan dengan baik. Kedisiplinan siswa dapat ditumbuh kembangkan jika iklim sekolah menunjukan kedisiplinan. Siswa, baru akan segera menyesuaikan diri dengan situasi di sekolah. Jika situasi sekolah disiplin, siswa akan ikut disiplin. Guru dan kepala sekolah memegang peranan penting dalam membentuk disiplin sekolah mulai dari merancang, melaksanakan dan menjaganya.
Cara merancang kedisiplinan sekolah :
1.    Penyusunan rancangan harus melibatkan guru, stap adminstrasi, wakil siswa dan wakil orang tua serta komite sekolah. Dengan ikut menyususun, diharapkan mereka merasa bertanggungjawab atas kelancaran pelaksaaannya.
2.    Rancangan harus sesuai dengan misi dan tujuan sekolah. Artinya disiplin yang dirancang harus dijabarkan dari tujuan sekolah.
3.    Rancangan harus singkat dan jelas sehingga mudah dipahami.
4.    Rancangan harus memuat secara jelas daftar prilaku yang dilarang serta sangsinya. Sangsi yang diterapkan harus yang bersifat mendidik dan telah disepakati oleh siswa, guru, dan wakil orang tua siswa.
5.    Peraturan yang telah disepakati oleh siswa, guru dan wakil orang tua siswa
6.    Peraturan yang disepakati bersama harus disosialisasikan. Misalnya melalui surat pemberitahuan, sehingga semua pihak terkait memahaminya. Jika perlu dilakukan kampanye untuk itu.
7.    Kegiatan yang terkait dengan aktivitas siswa harus diarahkan dalam pembentukan disiplin sikolah.
Agar peraturan dapat berjalan dengan baik, perlu dilakukan langkah langkah sebagai berikut :
1. Memasyarakatkan peraturan tersebut sehingga mendapat dukungan dari berbagai pihak.
2. Yakinkan guru, siswa dan orang tua bahwa peraturan tersebut dapat menumbuhkan kedisiplinan warga sekolah.
3. Berilah kepercayaan kepada guru, stap administrasi untuk melaksanakan kedisiplinan sehari - hari.
4. Lakukan pemantauan terhadap pelaksanaan peraturan, antara lain dengan mengunjungi kelas.
5. Menjadi teladan, dengan berlaku disiplin sesuai dengan peraturan setiap tempat dan waktu. Ingat keteladanan lebih ampuh dari pada seribu nasihat.
6. Segera atasi jika ada pelanggaran dengan menetapkan sangsi secara konsisten. Dorong guru untuk memberi peringatan jika tampak ada gejala penyimpangan dari siswa.
7. Secara periodik dilakukan peninjauan kembali untuk mengetahui apakah peraturan tersebut masih cocok atau perlu penyempurnaan.

3.2 Strategi implementasi dan Tata Cara Disiplin Sekolah
Terdapat beberapa cara untuk menanamkan disiplin pada anak didik baik itu dilingkungan keluarga maupun dilingkungan sekolah diantaranya sebagai berikut:
A.   Cara Otoriter
Pada cara ini guru menentukan aturan-aturan batasan yang mutlak yang harus ditaati oleh anak-anak, dan anak harus tunduk dan patuh dan tidak ada pilihan lain. Akan tetapi dengan mempergunakan sikap otoriter ini anak akan memperlihatkan reaksinya misal: menentang atau melawan karena anak merasa dipaksa, maka menetang dan melawan, bisa ditampilkan  dalam tingkah laku yang melanggar norma dan menimbulkan persoalan pada dirinya. Cara otoriter memang biasa digunakan pada permulaan menanamkan disiplin


B.   Cara Bebas
Pada cara bebas ini pengawasan menjadi berkurang, anak sudah terbiasa mengatur dan menentukan sendiri apa yang dianggapnya benar, pada umumnya kesadaran ini terjadi pada keluarga. Keluarga yang keduanya bekerja dan tidak ada waktu untuk mendidik anak dengan baik, yang mana orang tua lebih melimpahkan anak kepada guru. Sedangkan orang tua sendiri hanya bertindak sebagai polisi yang mengawasi, menegor dan mugkin memahrahi. Orang tua tidak bisa berintraksi langsung dengan anak. Oleh karena itu hubungana anak dengan orang tua tidak baik, dan anak akan merasa sendiri sehingga menjadikan perkembnagan kepribadinya tidak terarah.
C.   Cara Demokratis
Cara ini dilakukan dengan cara memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan disini tidak mutlak yaitu perlu adanya bimbingan penuh pengertian antara anak dan guru atau orang tuanya. Dengan cara demokratis anak akan tumbuh rasa tanggung jawab untuk memperhatikan sesuatu tingkah laku dan memupuk kepervcayaan dirinya. Dan jika tingkah lakunya tidak berkenan bagi teman-temanya maka anak mampu menghargai tutntutan pada lingkungan sekolhnya.
Teknik-teknik penanaman disiplin
A.   Teknik yang berorientasi pada kasih sayang
Teknik ini dikenal dengan menanamkan disiplin dengan meyakinkan tanpa kekuasaan, memberikan pujian dan menerangkan sebab-sebab sesuatu tingkah oleh anak, yang mana anak memperkembangkan rasa tanggung jawab dan disiplin yang baik.



B.   Teknik yang bersifat Material
Tehnik ini menggunakan hadiah-hadiah yang benar-benar berwujud atau hukuman mendidik meyakinkan melalui kekuasaan(power assertive discipline)

Jenis-jenis disiplin
A.   Disiplin dirumah yaitu:
ü  Disiplin belajar
ü  Disiplin membantu orang tua
ü  Disiplin beribadah
B.   Disiplin disekolah yaitu:
ü  Masuk sekolah tepat waktu
ü  Memakai pakaian seragam sekolah mentaati tatatertib sekolh
ü  Menghormati ibu tau bapak guru

Pentingnya Disiplin pada Anak
       Dengan menerapkan disiplin kepada anak, akan bisa membagi waktu kapan mereka bermain dan belajar, pentingnya disiplin bagi anak:
a.    Dengan disiplin anak akan mengerti tentang suatu peraturan yang diberikan oleh guru dan orang tua.
b.    Menumbuhkan rasa kepercayaan anak.
c.    Dengan disiplin anak dapat melaksanakan tugas yang telah deberikan oleh orang tua dan gurunya.

Mentaati tata tertib
       Disiplin merupakan hal penting yang harus ditanamkan pada anak didik di sekolah sedini mungkin. Sekolah adalah tempat utama melatih dan memahami pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Supaya proses pembelajaran berlangsung kondusif maka sekolah harus mempunyai tata tertib. Tata tertib itu antara lain:

Masuk Sekolah
·         Siwa harus datang di sekolah selambat-lambatnya 10 menit sebelum pembelajaran dimulai
·         Menaruh tas dan alat tulis lainnya di laci meja masing-masing kemudian keluar kelas
·         Siswa yang mendapat tugas/piket harus hadir lebih awal
·         Siswa yang sering terlambat harus diberi teguran
·         Siswa yang tidak masuk karena alasan tertentu harus memberi tahu sebelum atau sesudahnya, secara lisan atau tulisan
·         Guru tidak boleh terlambat atau absen tanpa ijin
Masuk Kelas
·         Siswa segera berbaris di depan kelas ketika bel berbunyi
·         Ketua kelas menyiapkan barisan
·         Siswa masuk kelas satu persatu dengan tertib dan duduk ditempat masing-masing
·         Guru memeriksa kerapian, kebersihan dan kesehatan siswa satu per satu
Di Dalam Kelas
·         Berdo’a bersama dipimpin oleh salah seorang siswa
·         Memberi salam kepada guru saat pelajaran akan dimulai
·         Guru memanggil/mengabsen siswa. Yang tidak masuk ditulis dipapan absen serta alasannya/keterangan kenapa tidak masuk
·         Pada saat pelajaran berlangsung siswa harus tetap tertib, tidak boleh ribut, bercanda atau kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran
·         Siswa tidak boleh meninggalkan kelas tanpaalasan tertentu
·         Guru juga tidak diperkenankan meninggalkan kelas ketika pelajaran berlangsung, walaupun siswa sedang mengerjakan tugas


Waktu Istirahat
·         Pada saat bel istirahat berbunyi siswa keluar kelas dengan tertib
·         Guru keluar kelas setelah semua siswa keluar
·         Siswa tidak boleh ada dikelas ketika istirahat
·         Selama istirahat siswa tidak diperkenankan meninggalkan sekolah tanpa ijin
·         Pada saat bel masuk lagi berbunyi (setelah istirahat) siswa masuk kelas dengan tertib dan duduk dengan tenang di tempat masing-masing
·         Sebaiknya guru sudah berada dikelas lebih dulu menjelang bel masuk berbunyi
Waktu Pulang
·         Ketika bel pulang berbunyi, pelajaran berakhir, ditutup dengan berdo’a dan salam kepada guru
·         Guru memberikan nasehat-nasehat, mengingatkan tentang tugas-tugas, pekerjaan rumah dan sebagainya
·         Siswa keluar kelas dengan tertib

Langkah langkah yang strategis untuk dijalankan :
1.  Berilah penghargaan kepada guru karyawan dan siswa yang berprilaku disiplin, baik secara perorangan atau kelomp[ok. Penghargaan dapat berupa piagam atau diumumkan dalam suatu acara tertentu atau lainnya.
2.  Tumbuhkan lingkungan yang saling menghargai sesuai dengan budaya setempat misalnya memberi kritik, dengan kritik prilakunya dan bukan orangnya. Fokuskan pada kerjasama dan kompetisi yang sehat, hindari kata kata kasar dan hukuman fisik.
3.  Bangun rasa kepedulian, kebersamaan di sekolah, dengan meyakinkan semua pihak bahwa sekolah milik bersama, sehingga baik buruk sekolah, termasuk disiplin merupakan tanggungjawab semua pihak.
4.  Ikut sertakan orang tua siswa, sehingga mereka dapat mendorong anaknya untuk berprilaku didsiplin, baik di sekolah maupun di rumah. Dengan keikutsertaan orang tua tidak akan kaget jika ternyata anaknya melanggar dan mendapatkan sangsi di sekolah.
5.  Ikut sertakan OSIS. Seringkali siswa lebih mudah menerima jika dingatkan oleh teman sendiri. Dengan melibatkan OSIS diharapkan akan terjadi mekanisme saling mengingatkan antar siswa.
6.  Hindarkan sekolah dari ancaman pihak luar, agar siswa merasa aman di sekolah. Untuk itu periksa situasi lingkungan sekolah dan temukan dimana kemungkinan terjadi gangguan.
7.  Siapkan prosedur yang harus ditempuh jika ada keadaan darurat dan bila perlu keadaan tersebut dilaporkan kepada pihak yang berwajib.
8.  Buatlah daftar siswa yang bermasalah ( peta siswa ) agar mereka meperoleh pembinaan khusus.
9.  Lakukan evaluasi tentang pelaksanan kedisiplinan melalui pertemuan warga sekolah.

















BAB IV
PENUTUP

4. 1 Simpulan
Disiplin berasal dari bahasa latin “Disciplina” yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan kerohanian serta pengembangan tabiat. Jadi sifat disiplin berkaitan dengan pengembangan sikap yang layak terhadap pekerjaan. Sekarang ini kata displin telah berkembang mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga banyak para ahli baik ahli bahasa maupun sosial dan etika dan estetika memberikan definisi yang berbeda-beda. Walaupun beberapa ahli memberikan pendapat yang berbeda tapi pada intinya bahwa disiplin adalah bertingkah sesuai dengan norma yang berlaku pada lingkungan dan tempat tertentu.
Untuk menjadi disiplin terdapat beberapa cara untuk menanamkan disiplin diantarnya yaitu:
a.    Cara otoriter
b.    Cara bebas
c.    Cara demokratis
Terdapat beberapa teknik yang digunakan untuk penanaman disiplin yaitu teknik yang berorientasi kepada kasih sayang dan teknik yang bersifat materian.
Pendisiplinan pada anak didik bila dilihat dari tempatnya maka disiplin terbagi menjadi:
a.    Disiplin di rumah
b.    Disiplin di sekolah
Dengan menerapkan disiplin kepada anak, akan bisa membagi waktu kapan mereka bermain dan belajar, dengan disiplin diharapkan: a). Anak akan mengerti tentang suatu peraturan yang deberikan oleh guru dan orang tua. b) menumbuhkan rasa kepercayaan anak, c) anak dapat melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh orang tua dan gurunya.

4.2 Saran
       Dalam rangka meningkatkan kedisiplinan siswa, ada beberapa upaya yang mungkin bisa dilakukan diantaranya:
1.    Untuk menumbuhkan konsep diri siswa sehingga siswa dapat berperilaku disiplin, guru disarankan untuk bersikap empatik, menerima, hangat dan terbuka;
2.    Guru terampil berkomunikasi yang efektif sehingga mampu menerima perasaan dan mendorong kepatuhan siswa;
3.    Guru disarankan dapat menunjukkan secara tepat perilaku yang salah,sehingga membantu siswa dalam mengatasinya; dan memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari perilaku yang salah.
Harus disadari bahwa untuk mendisiplinkan siswa kadang guru, kepala sekolah ataupun yang lainnya tidak menyadari bahwa anak didik akan lebih sadar mengenai disiplin sekolah ataupun dirumah meniru dari apa yang mereka lihat dan rasakan sehari-hari

















Daftar Pustaka

M. Hosnan & Suherman, Kamus Profesional Guru, Jakarta, Yudhistira, 2013
Priodarminto, Disiplin Kiat Menuju Sukses, Jakarta, Pradika Pramita, 1994
Said Hamid Hasan, Dkk Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa (Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian Dan Pengembangan Pusat Kurikulum-Tahun 2010  2010).

Sulistiowati, Cara Belajar Yang efektif dan Efisien, Jakarta, Cinta Ilmu, 1997
Walgito, Bimbingan dan Penyuluhan d sekolah, Yogyakarta, Andi Offset,1989
http://dwi-yunita.blogspot.co.id/2011/09/hakikat-disiplin-dalam-pendidikan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Disiplinhttp://tarmizi.wordpress.com/2008/12/12/kedisiplinan-siswa-di-sekolah/
http://google.com/disiplinhttp://tarmizi.wordpress.com/kedisiplinan-siswa/



3 komentar:

  1. Mohon ijin kang Nawa, Kalau bisa dibuat foot notenya, jadi jelas rujukannnya per paragraf.

    BalasHapus
  2. bagus makalah nya, memang permasalahan kedisiplinan memang jadi polemik, kami punya solusi agar disiplin siswa lebih meningkat, silahkan kunjungi website kami ABSENSI SISWA

    BalasHapus